Spotlight Effect : When All Eyes On You
Risma Agustin A.K.D., M.Psi.,Psikolog
Pada dasarnya, semua orang suka diperhatikan oleh orang lain. Ketika individu berinteraksi dengan banyak orang, dan berbicara di depan umum membuat seseorang seringkali lebih memperhatikan penampilannya dan dengan status sosial tersebut, mereka akan merasa dirinya di sorot atau diperhatikan baik dari segi perilaku, penampilan maupun ketrampilan. Kecenderungan tersebut sering kali menjadi berlebihan dan membuat merasa menjadi pusat perhatian yang disebut spotlight effect yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya harus tampil maksimal dalam lingkungan sosialnya.
Dalam hal ini semua orang bisa sangat fokus pada diri mereka sendiri, tindakan mereka, dan penampilan mereka serta percaya bahwa semua orang juga sama sadar. Mungkin beberapa orang akan menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar memperhatikan dirinya, namun, bisa jadi lebih sulit untuk mengenali fakta ini dan mengatasi kecemasan yang terkait dengan spotlight effect. Hai ini bisa membuat setiap situasi lebih menimbulkan rasa takut dan mengintimidasi.
Manusia suka berasumsi bahwa orang lain akan mengenali perasaannya. Asumsi inilah yang membuat dirinya berpikir bahwa orang lain selalu memperhatikan gerak-gerik dirinya. Kesadaran dirilah yang memungkinkan seseorang menetapkan batasan antara diri dan orang lain. Selain itu, kesadaran diri juga merupakan suatu bentuk pengenalan seseorang terhadap dirinya sendiri, baik itu perasaan, peran, maupun ingatan. Peningkatan kesadaran diri akan menjadi hal yang tak menyenangkan bagi kebanyakan orang dan menimbulkan rasa malu. Maka tak heran jika orang yang pemalu biasanya akan lebih sadar terhadap tindakan dan kelemahan diri sendiri. Mereka selalu yakin tingkah lakunya sungguh-sungguh diperhatikan oleh orang lain. Kesadaran diri memang bisa membuat seseorang seseorang bertindak lebih etis. Namun, di sisi lain, ada kemungkinan seseorang akan mengalami ketakutan untuk dikritik dan diperhatikan secara berlebihan. Situasi cemas tersebut terkadang bisa membuat 'demam panggung' ketika berada di antara banyak orang.
"The Egosentrism"
Pada dasarnya spotlight effect ini adalah hasil dari egosentrisme. Kita semua adalah pusat alam semesta kita sendiri. Ini bukan untuk mengatakan kita sombong atau menghargai diri kita sendiri lebih dari orang lain. Sebaliknya, seluruh keberadaan kita adalah dari pengalaman dan perspektif kita sendiri. Dan pengalaman itu untuk mengevaluasi dunia di sekitar, termasuk orang lain. Bias egosentrisme ini sebagian berasal dari kegagalan untuk menghargai dan menyadari bahwa perhatian orang lain bukan hanya pada dirinya, dan juga melebih-lebihkan sejauh mana orang lain memperhatikan penampilan mereka. (Gilovich & Savitsky, 1999).
Menurut Piaget, egosentrisme berkaitan dengan kemampuan berbicara dan berfikir yang diarahkan pada kebutuhan pribadi atau ketidakmampuan memahami bahwa orang lain juga mempunyai kepentingan atau pandangan yang mungkin berbeda dengan yang dimilikinya. Sehingga akan memandang dunia dari perspektif pribadi tanpa menyadari bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda.
"Naive Realism & Blind Spot Bias"
Ketika mengalami spotlight effect seseorang percaya bahwa warna, motif baju, aroma, noda jerawat diwajah, bentuk tubuh dan sebagainya, dari sesuatu pada dirinya memang sama persis dengan apa yang secara langsung ditangkap dengan indra orang lain. Jadi, kehadiran dan keaktifan objek belum disadari dan menjadi kurang kritis. Hal ini mengabaikan perbedaan antara apa yang tampak seseorang amati dan apa yang ada dalam kenyataan yang sesungguhnya dan juga kenyataan bahwa bisa terjadi ketidakcocokan antara keduanya, dan bahwa dalam banyak hal yang kita tangkap dengan indra seseorang tidak melekat pada benda itu sendiri, tetapi tergantung keadaan seseorang dan lingkungan disekitarnya
Makna Positif
Ketika mengenakan atribut kerja dan memiliki prestasi kemudian merasa menjadi sorotan akan menumbuhkan rasa percaya diri. Hal tersebut memicunya untuk mengembangkan potensinya dan semakin eksis dan bahkan memiliki role model atau panutan untuk motivasi menjadi terlihat lebih baik. Mereka beranggapan penting untuk memilih-milih teman yang memiliki pandangan yang sama dengan mereka, sehingga terkadang mengabaikan pandangan orang lain yang dianggap memiliki kriteria yang berbeda.

Komentar
Posting Komentar