Gentle Parenting: Apakah Sesuai untuk Generasi Alpha ?

 

Karina Rizki Rahmawati, M.Psi, Psikolog

@karin_psikolog

Psikolog Klinis


 

Saat ini beberapa orang tua mulai “pusing” dengan permasalahan tumbuh kembang anak, salah satunya adalah perkembangan psikologis seprti pola perilaku anka. Apa dan bagaimana pola asuh yang tepat dan sesuai untuk diberikan dan daplikasikan untuk generasi anak – anak yang saat ini disebut dengan Generasi Alpha.  Generasi Alpha yang lahir antara tahun 2010 dan 2024. Para peneliti, memprediksi bahwa mereka akan menjadi kelompok yang sangat besar dengan identitas dan hak mereka sendiri. Seperti Generasi Z, mereka juga memiliki kemampuan teknologi yang luar biasa dan lebih terampil secara digital daripada generasi sebelumnya. Hal ini yang juga harus menjadi perhatian bagi orang tua untuk mendidik anak yang akan lebih mahir teknologi dan mulai mengikis nilai – nilai etika sosial.

Perlunya  meneyesuaikan pola asuh atau gaya parenting dengan karakteristik mereka yang tumbuh di era teknologi dan informasi serba cepat ini memerlukan beberapa pendekatan yang efektif. Salah satu model pola asuh yang sering dibicarakan akhir – akhir ini yaitu gentle parenting.  Tipe pengasuhan gentle parenting berfokus pada hubungan antara orang tua dan anak, dengan penekanan pada kasih sayang, empati, komunikasi, dan pemahaman akan kebutuhan anak. Tujuannya adalah membentuk perilaku anak melalui kedekatan emosional tanpa hukuman keras atau paksaan, melainkan dengan cara menghargai kebutuhan anak akan tetapi juga memberikan batasan yang jelas. Beberapa prinsip utama gentle parenting adalah:

1. Empati, dimana orang tua diharapkan berusaha memahami perasaan dan kebutuhan anak dari sudut pandang mereka. Misalnya, ketika anak marah, orang tua mendekati dengan menanyakan apa yang menyebabkan kemarahan, bukan langsung memarahi.

2. Komunikasi Positif, orang tua diharapkan mampu melakukan Komunikasi terbuka dengan anak, menggunakan kalimat dan bahasa yang jelas dan tenang. Misalnya

Mengganti kata, “Jangan nakal!”, dengan, “Aku ingin kamu bermain dengan hati – hati agar tidak menyakiti orang lain.”

3. Batasan yang Jelas dan Konsisten, meskipun begitu gentle parenting tetap menerapkan aturan dan batasan, namun cara penerapannya menggunakan pendekatan yang menghargai anak. Misalnya “Kamu bisa bermain 15 menit ya, setelah itu waktunya tidur.”

4. Pemberian Contoh (Role Model)

Anak adalah peniru dan cerminan dari orang tuanya. Anak belajar dari orang tua melalui perilaku yang dicontohkan. Misalnya, orang tua yang mengasuh dengan tenang dan sabar, serta menghargai anak akan lebih mudah membuat anak juga bersikap serupa.

5. Menghindari Menggunakan Hukuman

Daripada menghukum, gentle parenting fokus pada pengalihan atau penjelasan. Misalnya, ketika anak memukul, orang tua memberi tahu bahwa memukul itu sama dengan menyakiti, kemudian menunjukkan cara lain untuk mengekspresikan perasaan.

Nah, seperti model atau tipe parenting pada umumnya, gentle parenting ini memiliki keuntungan dan kekurangan. Beberapa keuntungannya anatara lain.

1.      Membangun hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua.

2.      Anak lebih mungkin mengembangkan kemampuan regulasi emosi dan empati.

3.      Mendorong rasa percaya diri dan kemandirian pada anak.

4.      Mengurangi risiko masalah perilaku akibat trauma dari pola pengasuhan yang keras dikemudian hari.

Sedangkan untuk tantangan dari gentle parenting adalah

1.      Membutuhkan kesabaran ekstra, melatih empati, dan keterampilan komunikasi yang baik. Hal ini yang terkadang sulit diterapkan apabila orang tua memiliki pola asuh yang berbeda dengan dirinya dulu dan tidak menyadari jika generasi anak sudah berbeda dengan dirinya

2.      Memerlukan konsistensi, terutama dalam memberikan batasan dan aturan tanpa hukuman dan kekerasan.

Generasi alpha memiliki ciri khas tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap individualis. Generasi alpha menginginkan hal – hal yang cepat, instan dan kurang menghargai proses. Berdasarkan seluruh aspek kehidupan, maka peran keluarga yang paling penting dalam proses tumbuh kembang anak. Dengan gentle parenting, orang tua berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan anak secara emosional dan sosial. Pendekatan ini mungkin memerlukan waktu dan usaha, tetapi manfaatnya terlihat dalam jangka panjang pada perkembangan anak.




0852-3445-7223 (Chat Only, No Call)
Jl. Puspowarno 8, Mangkujayan, Ponorogo

Komentar

You also can read this....

Ketika Rumah Tak Lagi Nyaman: Akar Masalah Mental pada Remaja dari Pola Asuh yang Salah

Spotlight Effect : When All Eyes On You

Navigasi Psikologis: Memahami PMS antara Kebutuhan Biologis dan Stigma “Manja”