Social Media VS Everybody

 Risma Agustin A.K.D., M.Psi.,Psikolog

@rismaakd

Psikolog Klinis



Saat ini, kebanyakan orang mengakses media sosial melalui smartphone. Sosial media menyediakan kenyamanan dalam hal berhubungan antar manusia, dan juga berarti sosial media akan selalu dapat diakses kapanpun, di manapun. Konektivitas yang hiper sepanjang waktu ini dapat memicu masalah kontrol impuls, peringatan dan pemberitahuan konstan yang dapat memengaruhi konsentrasi dan fokus seseorang, mengganggu kualitas tidur, dan membuat seseorang menjadi budak ponsel. 


Platform sosial media dirancang untuk menarik perhatian, membuat seseorang tetap online, dan membujuk seseorang agar berulang kali memeriksa layar dengan notifikasi-notifikasinya. Namun, sama seperti keterpaksaan judi atau kecanduan nikotin, alkohol, atau obat-obatan, penggunaan sosial media dapat menciptakan keinginan psikologis.


Saat seseorang menerima reaksi positif terhadap sebuah postingan yang seseorang unggah, hal itu dapat memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang memberikan sensasi kesenangan. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut ternyata dapat berbahaya bagi kesehatan mental. Karena pada akhirnya seseorang akan menggantungkan banyak aspek dalam diri seseorang terhadap penilaian melalui sosial media yang semu dan gampang diubah-ubah. Penyalahgunaan sosial media yang marak dijumpai lainnya adalah bulliying, hoax spamming, hacking, cybercrime, dan lain-lain.


                                 


Penelitian Wijaya dan Godwin (2012) menemukan aktivitas jejaring sosial memberikan pengaruh dalam kehidupan dunia nyata baik secara prososial maupun antisosial. Secara prososial, seseorang menggunakan situs jejaring sosial sebagai media pertemanan, bertukar informasi, memperluas wawasan, bahkan bisnis online yang dapat memberikan keuntungan secara materi. Sedangkan secara antisosial, tidak jarang ditemukan adanya pertengkaran yang terjadi di situs jejaring sosial, menyebarkan foto-foto/ tautan yang tidak pantas, status-status yang tidak membangun dan lain sebagainya. Ketika seseorang terpapar dengan media digital dan internet dalam kurun waktu yang lama, hal tersebut akan mengembangkan cara baru untuk bersosialisasi, berinteraksi, berpikir dan berperilaku (Tapscott, 2009). 


Hasil penelitian Sponcil dan Gitimu (2012) menemukan bahwa individu modern setidaknya memiliki satu jenis situs jejaring sosial sebagai sarana untuk membangun komunikasi dan bergaul dengan orang lain yang kurang lebih berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi dapat dikatakan bahwa media sosial yang saat-saat ini kian merebak di kalangan masyarakat dapat mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan nyata.


Survey dari (Hossain et al., 2020) menunjukkan bahwa selama pandemic, tingkat kecemasan banyak meningkat karena banyaknya informasi diterima dari sosial media yang entah mana yang benar dan tidak. Penggunaan media sosial bermasalah secara signifikan berhubungan dengan tekanan psikologis dan imsomia baik secara langsung maupun tidak langsung (Lin et al., 2020).


Lalu, upaya apa yang harus dilakukan agar sosial media tidak berdampak buruk bagi kesehatan psikologis?


         Melakukan detoks sosial media

Detoks bisa dilakukan apabila sosial media sudah menjadi toxic dan mengganggu produktivitas. Sosial media bisa membuat candu atau ketergantungan seperti merasa cemas, insecure, overthinking dan tidak bisa hidup sehari tanpa sosial media. Detoks yang bisa dilakukan yakni dengan menutup/menonaktifkan/ membatasi beberapa platform sosial media yang sekiranya bukan prioritas (Turel & Vaghefi, 2020)


        Menyadari bahwa manusia makhluk sosial

Tidak hanya sekedar interaksi di media sosial, manusia membutuhkan interaksi sosial langsung, yang menyempatkan waktu untuk benar-benar bersosialisasi dengan orang lain didunia nyata.


          Menumbuhkan sikap Altruisme

Altruisme adalah faktor paling signifikan yang memprediksi penyebaran berita palsu (Apuke & Omar, 2021). Altruisme adalah sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain. Altruisme berkebalikan dengan sifat egois yang lebih mementingkan diri sendiri. Dengan sikap tersebut diharap mampu membuat seseorang berfikir dulu sebelum melakukan penyalahgunaan bersosial media.


          Bijak bersosial media

Pengguna media sosial harus bijak memilah mana yang bisa diunggah di media sosial. Kemudian secara bijak mengatur emosi. Karena kadang - kadang orang tidak tahu maksud dari unggahan orang lain yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, maka ada baiknya saling mengonfirmasi maksud dari unggahan apabila perlu, dan apabila ada konflik di selesaikan secara langsung.


          Edukasi bersosial media yang baik

Saat ini kita sedang berada di era digital, sehingga RUU pembatasan usia pengguna sosial media masih menjadi pro kontra karena beberapa pertimbangan. Maka diperlukan mitigasi dan kebijakan lain pada media pemberi maupun penerima informasi. Hal positif yang bisa dilakukan yakni memanfaatkan sosial media itu sendiri untuk melakukan kampanye/edukasi online bagaimana bersosial media yang baik dan bijak.


    Jadi gimana, sudah bijak dalam menggunakan sosial media ?



Referensi :




0852-3445-7223 (Chat Only, No Call)
Jl. Puspowarno 8, Mangkujayan, Ponorogo



Komentar

You also can read this....

Ketika Rumah Tak Lagi Nyaman: Akar Masalah Mental pada Remaja dari Pola Asuh yang Salah

Spotlight Effect : When All Eyes On You

Navigasi Psikologis: Memahami PMS antara Kebutuhan Biologis dan Stigma “Manja”