Navigasi Psikologis: Memahami PMS antara Kebutuhan Biologis dan Stigma “Manja”
PMS VS Stigma "Manja"
Picture from Pinterest
Pernahkah merasa diri seperti kapal yang dihantam badai menjelang menstruasi? Satu waktu, mendadak ingin melahap semua camilan di kulkas. Di waktu lain, tangisan pecah tanpa alasan yang jelas, atau amarah tiba-tiba membuncah. Lantas, kalimat sakti yang sering terlontar adalah, "Maaf ya, aku lagi PMS!"
Premenstrual Syndrome (PMS) seringkali disalahpahami sebagai bentuk manipulasi emosional. Senyatanya, PMS adalah sebuah respons alami tubuh terhadap fluktuasi hormon yang terjadi menjelang menstruasi. Ibarat sebuah orkestra, hormon estrogen dan progesteron sedang menari, dan terkadang iramanya membuat kita sedikit oleng. Dari perspektif psikologi klinis, fase pramenstruasi sering kali menjadi periode yang penuh tantangan, baik bagi individu yang mengalaminya maupun lingkungan sekitarnya. Fenomena ini sering kali terjebak dalam stereotip sosial sebagai "alasan untuk bermanja" bagi perempuan. Namun, realitanya apa yang terjadi di balik perilaku tersebut adalah proses neurobiologis yang kompleks hingga memengaruhi cara kerja otak dalam memproses emosi.
Analisa Psikologis: Mengapa Muncul Perilaku "Manja"?
Saat PMS, keinginan untuk lebih diperhatikan sebenarnya adalah hal yang wajar secara psikologis dan disebut sebagai "perilaku afiliasi". Ketika hormon progesteron turun, otak kita jadi jauh lebih sensitif terhadap stres dibandingkan hari biasanya. Dalam kondisi ini, tanpa disadari kita sering merasa ingin bermanja-manja atau mencari rasa aman dari orang terdekat. Tujuannya sederhana, untuk menyeimbangkan rasa tidak nyaman, baik secara fisik maupun mental yang sedang dialami.
Namun, bagaimana jika ada "badai" yang jauh lebih besar, yang tak hanya membuat sensitif, tetapi benar-benar merenggut kendali atas diri, bahkan mengganggu seluruh aspek kehidupan? Hal ini nggak boleh kita remehkan. Ini adalah panggilan untuk memahami lebih dalam apa yang terjadi di dalam tubuh dan pikiran kita sehingga kita bisa menghadapinya dengan lebih bijak.
Batasan Gejala: Kapan Harus Waspada?
Penting bagi kita untuk membedakan antara perubahan suasana hati yang wajar (PMS) dengan gangguan yang membutuhkan bantuan profesional, yakni Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).
Gejala PMS Normal:
Sensitif secara emosional namun masih bisa beraktivitas
Nafsu makan meningkat (cravings)
Kelelahan fisik ringan namun tetap mampu berkonsentrasi
Gejala hilang dalam 1-2 hari setelah menstruasi dimulai
Batasan “Red Flags” menuju PMDD:
Konflik hebat dengan pasangan atau rekan kerja yang terjadi secara berulang setiap bulan
Merasa sangat putus asa atau sedih tanpa alasan yang jelas
Tidak mampu berangkat kerja atau sekolah karena beban mental yang terlalu berat
Nyeri yang tidak tertahankan hingga mengganggu tidur secara total
Secara resmi, PMDD telah diakui dalam DSM-5 (American Psychiatric Association) sebagai salah satu jenis gangguan depresi. Bukan lagi sekedar “sensitif” biasa, melainkan ledakan emosi yang sangat hebat. Bagi mereka yang mengalaminya, masa-masa sebelum menstruasi bisa terasa seperti "badai kegelapan" yang datang terus-menerus setiap bulan. Perasaan putus asa, rasa cemas yang bikin kaku, hingga amarah yang meledak-ledak sering kali muncul begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah PMDD bisa memicu pikiran untuk mengakhiri hidup karena tekanan emosionalnya yang begitu berat. Tentu sangat berbeda dengan PMS biasa, dimana rasa sakitnya masih bisa ditoleransi. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap semua keluhan menjelang menstruasi sebagai tanda-tanda yang muncul secara sepele. Padahal, bagi pejuang PMDD, rasa sakit mental terasa sangat nyata dan mereka benar-benar butuh bantuan medis serta terapi psikologis untuk bisa pulih.
Fun fact PMS:
Efek Kacamata Hitam
Saat PMS, otak perempuan cenderung mengalami Bias Negativitas. Hal yang biasanya dianggap sepele bisa terlihat seperti "masalah besar yang mengancam hubungan" karena otak sedang lebih fokus mendeteksi ancaman dan kesalahan.
Peningkatan Kreativitas di Tengah Gejolak
Meskipun menyebalkan, sensitivitas emosional yang meningkat saat PMS dapat melahirkan karya-karya yang mendalam karena "tembok" pertahanan emosional mereka sedang menipis.
Retail Therapy
Perempuan cenderung lebih impulsif dalam berbelanja saat PMS yang dianggap sebagai upaya bawah sadar untuk meregulasi emosi dan mencari "dosis" dopamin instan untuk melawan rasa rendah diri atau kecemasan.
Ketajaman Penciuman
Indra penciuman perempuan sering kali menjadi jauh lebih tajam saat PMS yang sering memicu perubahan suasana hati mendadak.
Intuisi yang Lebih Tajam
PMS sebenarnya bukan "membuat masalah baru", melainkan "mengangkat masalah yang selama ini dipendam” karena longgarnya rem emosional sehingga keberanian untuk menyuarakan meningkat.
Dream Recall yang Lebih Kuat
Ketika PMS seringkali mimpi menjadi lebih intens, aneh, atau bahkan mimpi buruk. Hal ini berkaitan dengan adanya gangguan pada kualitas tidur REM (Rapid Eye Movement) akibat penurunan suhu tubuh.
Dalam psikologi, "bermanja" saat PMS sering kali adalah bentuk komunikasi non-verbal bahwa seseorang sedang berada dalam titik terendah energinya. Kita perlu membedakan antara perilaku yang timbul dari kebutuhan neurokimiawi dengan tindakan manipulatif. Bagi sebagian besar perempuan, keinginan untuk diperhatikan lebih saat PMS adalah bentuk jujur dari komunikasi tubuh yang sedang berada dalam mode "bertahan". Memahami hal ini sebagai kebutuhan psikologis, bukan sekadar alasan, adalah langkah awal untuk membangun empati dan hubungan yang lebih sehat. Tidak memandangnya sebagai beban, namun sebagai momen untuk memperkuat ikatan melalui dukungan emosional yang tulus.
Reference
American Psychiatric Association (APA) (2023). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., text rev.). https://doi.org/10.1176/appi.books.9780890425787.
Gao, M., et al. (2024). "Premenstrual syndrome: new insights into etiology and review of treatment methods." Frontiers in Psychiatry. DOI: 10.3389/fpsyt.2024.1363875.
Hampson, E. (2018). "Hormones and Cognitive Functioning: The Role of Estrogens and Progestins in Human Cognition." Journal of Neuroscience Research.
Mishra, S., et al. (2022). "Premenstrual Syndrome and Premenstrual Dysphoric Disorder as Centrally Based Disorders: A Review of Neurointrinsic Mechanisms." MDPI - International Journal of Molecular Sciences.
Pine, K. J. (2009/re-evaluated 2019). "Retail Therapy: A Study on Consumer Behavior and the Menstrual Cycle." University of Hertfordshire Research Archive.
Ussher, J. M. (2018). The Madness of Women: Myth and Experience. Routledge: London
Komentar
Posting Komentar