Ketika Rumah Tak Lagi Nyaman: Akar Masalah Mental pada Remaja dari Pola Asuh yang Salah


 Erlinda Datazkia Jauda

@erlinda.tazkia


Sumber: id.pinterest.com

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat yang paling nyaman dan aman. Tapi, bagi sebagian remaja rumah justru menjadi sumber utama dari stress, kecemasan, bahkan trauma. Dibalik senyuman yang ditunjukkan baik dilingkungan sekitar maupun media sosial, tak jarang tersembunyi luka emosional yang berasal dari lingkungan terdekatnya: keluarga.

Masa Remaja dan Rentannya Kesehatan Mental

        Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, fase pencarian jati diri saat emosi dan pikiran sedang berkembang pesat. Wright  (2009)  mengatakan  bahwa  masa  remaja  merupakan  suatu  masa   krisis   terus-menerus   dengan   diselingi   beberapa   masa   reda   dengan   pengalaman   yang   menegangkan,  stres,  badai  bahkan  tekanan  sosial  memuncak.  

        Mereka  beranjak  dari  ketergantungan  kepada  orangtua  menuju  kemandirian,  otonomi,  dan  kematangan. Pada masa ini juga terjadi banyak perubahan fisik, biologis, dan emosional. Banyak remaja hanya terfokus pada kesehatan fisiknya, namun sebenarnya kesehatan mental juga penting untuk diperhatikan, karena kesehatan mental mempengaruhi cara seseorang untuk berfikir, merasakan, dan bertindak didalam kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang bagus akan mampu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan baik. 

        Tapi sayangnya di fase ini, banyak remaja mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, depresi, gangguan makan, trauma masa kecil, hingga self harm. Salah satu akar penyebab yang sering terlupakan adalah pola asuh orang tua di rumah.

Pola Asuh yang Bisa Jadi Pemicu Masalah Mental

Berikut adalah beberapa bentuk pola asuh yang secara tidak langsung dapat merusak keseimbangan psikologis remaja:

  1. Pola Asuh Otoriter

    Orang tua yang terlalu menuntut tanpa memberikan ruang untuk berdiskusi sering kali membuat anak merasa tidak berdaya. Pola asuh otoriter  adalah  pola  asuh  yang         ditandai  dengan  cara mengasuh  anak-anak  dengan  aturan yang  ketat,  sering kali        memaksa  anak  untuk  berperilaku  seperti  dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri  dibatasi,  anak  jarang  diajak  berkomunikasi  dan diajak   ngobrol,   bercerita,   bertukar   pikiran   dengan orang   tua   (Ayun,   2017).   

    Hal   ini   sejalan   dengan pendapat   yang   dikemukakan   Santrock   (2012)   ia mengatakan  bahwa  kebanyakan  anak  dari  orang  tua yang  otoriter  memiliki  peluang  lebih  besar  mengalami masalah emosional

   2. Kurangnya Afeksi dan Validasi Emosi

  Saat remaja mengungkapkan perasaan lalu dianggap “jangan berlebihan” atau disuruh “jangan baper”, ini membuat mereka merasa tak dipahami. Emosi yang dipendam terus menerus bisa meledak dalam bentuk gejala psikologis.

 3. Perbandingan yang Melemahkan Harga Diri

    Kalimat seperti “Lihat tuh anak tetangga juara kelas terus!” justru bisa melukai dan menurunkan rasa percaya diri anak. Bukannya termotivasi, remaja jadi merasa tidak cukup baik dan selalu merasa kurang.

    Pertengkaran yang terjadi didalam rumah, baik antara ayah dan ibu maupun orang tua dengan anak, ini bisa menciptakan lingkungan penuh ketegangan, Rumah tak lagi terasa nyaman dan aman, ini dapat membekas dalam perkembangan emosi remaja.

Mengapa Hal Ini Bahaya?

    Remaja yang tidak merasa nyaman, aman dan diterima di rumah cenderung mencari pelarian: dari teman sebaya, media sosial, dan bahkan ke hal-hal yang destruktif. Saat rumah kehilangan fungsinya sebagai tempat pemulihan, mereka lebih mudah terseret ke hal-hal negative seperti penyalahgunaan zat, relasi yang toxic, atau menarik diri dari lingkungan dan banyak hal lainnya.

Peran Orang Tua: Mendengarkan dan Hadir

    Mendengarkan dan hadir menjadi penting untuk pola asuh orang tua yang dapat berpengaruh secara emosional remaja. Ini melibatkan pemberian perhatian penuh saat anak berbicara, mendengarkan dengan sabar, dan memberikan respon yang mendukung dan positif. Kabar baiknya, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil. 

    Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan ruang untuk remaja berbicara, dan memvalidasi perasaan mereka bisa menjadi langkah awal yang besar. Orang tua juga harus hadir secara fisik, memberikan dukungan dan bimbingan, serta menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi remaja untuk tumbuh dan berkembang. Orang tua tak harus sempurna, tapi kehadiran yang hangat dan terbuka bisa menyelamatkan kesehatan mental remaja.

Penutup

    Remaja butuh tempat nyaman dan aman untuk bertumbuh, seharusnya tempat itu adalah rumah. Mari refleksikan kembali, sudahkah rumah menjadi tempat ternyaman bagi remaja? Jika belum, mungkin sudah saatnya untuk mengubah pola, membuka hati, dan membangun ulang kenyamanan itu, dimulai dari hubungan di dalam keluarga.

 

Referensi :

Ayun,   Q.   (2017) ‘Pola  Asuh  Orang  Tua  dan Metode Pengasuhan dalam Membentuk Kepribadian  Anak’,  ThufuLA:  Jurnal  Inovasi Pendidikan  Guru  Raudhatul  Athfal,  5(1),  p.  102. doi: 10.21043/thufula.v5i1.2421.

Santrock,  J.  W.  (2012).  Life -Span  Development, Perkembangan Masa Hidup(Edisi Ketigabelas) Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Wright,  N.  H.  (2009).  Konseling  Krisis:Membantu  Orang  Dalam  Krisis  dan  Stress  (Terjemahan).Malang: Gandum Mas.




0852-3445-7223 (Chat Only, No Call)
Jl. Puspowarno 8, Mangkujayan, Ponorogo



Komentar

You also can read this....

Spotlight Effect : When All Eyes On You

Navigasi Psikologis: Memahami PMS antara Kebutuhan Biologis dan Stigma “Manja”