Ketika Rumah Tak Lagi Nyaman: Akar Masalah Mental pada Remaja dari Pola Asuh yang Salah
Erlinda Datazkia Jauda
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat yang paling
nyaman dan aman. Tapi, bagi sebagian remaja rumah justru menjadi sumber utama
dari stress, kecemasan, bahkan trauma. Dibalik senyuman yang ditunjukkan baik
dilingkungan sekitar maupun media sosial, tak jarang tersembunyi luka emosional
yang berasal dari lingkungan terdekatnya: keluarga.
Masa Remaja dan Rentannya Kesehatan Mental
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, fase pencarian jati diri saat emosi dan pikiran sedang berkembang pesat. Wright (2009) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu masa krisis terus-menerus dengan diselingi beberapa masa reda dengan pengalaman yang menegangkan, stres, badai bahkan tekanan sosial memuncak.
Mereka beranjak dari ketergantungan kepada orangtua menuju kemandirian, otonomi, dan kematangan. Pada masa ini juga terjadi banyak perubahan fisik, biologis, dan emosional. Banyak remaja hanya terfokus pada kesehatan fisiknya, namun sebenarnya kesehatan mental juga penting untuk diperhatikan, karena kesehatan mental mempengaruhi cara seseorang untuk berfikir, merasakan, dan bertindak didalam kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang bagus akan mampu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan baik.
Tapi sayangnya di fase ini, banyak remaja
mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebih,
depresi, gangguan makan, trauma masa kecil, hingga self harm. Salah satu
akar penyebab yang sering terlupakan adalah pola asuh orang tua di rumah.
Pola Asuh yang Bisa Jadi Pemicu Masalah Mental
Berikut adalah beberapa bentuk pola asuh yang secara tidak langsung dapat merusak keseimbangan psikologis remaja:
- Pola Asuh Otoriter
Orang tua yang terlalu menuntut tanpa memberikan ruang untuk berdiskusi sering kali membuat anak merasa tidak berdaya. Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anak dengan aturan yang ketat, sering kali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi, anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak ngobrol, bercerita, bertukar pikiran dengan orang tua (Ayun, 2017).
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Santrock (2012) ia mengatakan bahwa kebanyakan anak dari orang tua yang otoriter memiliki peluang lebih besar mengalami masalah emosional
2. Kurangnya Afeksi dan Validasi Emosi
Saat remaja mengungkapkan perasaan lalu dianggap “jangan berlebihan” atau disuruh “jangan baper”, ini membuat mereka merasa tak dipahami. Emosi yang dipendam terus menerus bisa meledak dalam bentuk gejala psikologis.
3. Perbandingan yang Melemahkan Harga Diri
Kalimat seperti “Lihat tuh anak tetangga juara kelas terus!” justru bisa melukai dan menurunkan rasa percaya diri anak. Bukannya termotivasi, remaja jadi merasa tidak cukup baik dan selalu merasa kurang.
Pertengkaran yang terjadi didalam rumah, baik antara ayah dan ibu maupun orang tua dengan anak, ini bisa menciptakan lingkungan penuh ketegangan, Rumah tak lagi terasa nyaman dan aman, ini dapat membekas dalam perkembangan emosi remaja.
Mengapa Hal Ini Bahaya?
Remaja yang tidak merasa nyaman, aman dan diterima di
rumah cenderung mencari pelarian: dari teman sebaya, media sosial, dan bahkan
ke hal-hal yang destruktif. Saat rumah kehilangan fungsinya sebagai tempat
pemulihan, mereka lebih mudah terseret ke hal-hal negative seperti
penyalahgunaan zat, relasi yang toxic, atau menarik diri dari lingkungan dan
banyak hal lainnya.
Peran Orang Tua: Mendengarkan dan Hadir
Mendengarkan dan hadir menjadi penting untuk pola asuh orang tua yang dapat berpengaruh secara emosional remaja. Ini melibatkan pemberian perhatian penuh saat anak berbicara, mendengarkan dengan sabar, dan memberikan respon yang mendukung dan positif. Kabar baiknya, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan ruang
untuk remaja berbicara, dan memvalidasi perasaan mereka bisa menjadi langkah
awal yang besar. Orang tua juga harus hadir secara fisik, memberikan dukungan
dan bimbingan, serta menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi remaja
untuk tumbuh dan berkembang. Orang tua tak harus sempurna, tapi kehadiran yang
hangat dan terbuka bisa menyelamatkan kesehatan mental remaja.
Penutup
Remaja butuh tempat nyaman dan aman untuk bertumbuh,
seharusnya tempat itu adalah rumah. Mari refleksikan kembali, sudahkah rumah
menjadi tempat ternyaman bagi remaja? Jika belum, mungkin sudah saatnya untuk
mengubah pola, membuka hati, dan membangun ulang kenyamanan itu, dimulai dari
hubungan di dalam keluarga.
Referensi
:
Ayun, Q.
(2017) ‘Pola Asuh Orang
Tua dan Metode Pengasuhan dalam
Membentuk Kepribadian Anak’, ThufuLA:
Jurnal Inovasi Pendidikan Guru
Raudhatul Athfal, 5(1),
p. 102. doi:
10.21043/thufula.v5i1.2421.
Santrock, J.
W. (2012). Life -Span
Development, Perkembangan Masa Hidup(Edisi Ketigabelas) Jilid I.
Jakarta: Erlangga.
Wright, N.
H. (2009). Konseling
Krisis:Membantu Orang Dalam
Krisis dan Stress
(Terjemahan).Malang: Gandum Mas.

Komentar
Posting Komentar